#Malu Terlalu

08.26



Nus: Saya merasa malu
Lus: Itu bagus, malu kan bagian dari iman. 
Nus: Tapi saya sangat malu hingga rasanya hampir putus asa.
Lus: Lho?! Harus di-rem tuh berarti. Emangnya malu karena apa?
Nus: Saya malu sama tetangga, kalau-kalau mereka mendengar atau tahu sesuatu tentang saya yang nggak pantas saya katakan atau lakukan.
Lus: Itu malu atau was-was saja...?
Nus: Entahlah. Yang jelas, saya merasa sangat malu jika melakukan sebuah kesalahan, dan mungkin tetangga saya mengetahuinya atau mendengarnya. Saya jadi gelisah dan kecewa pada diri sendiri.
Lus: Begitulah
Nus: Begitu apa?
Lus: Jika mata dan telinga manusia yang kita jadikan Pengawas Amalan. Lupa diri saat melakukan kelalaian, begitu selesai baru deh ingat... kira-kira apa kata orang ya..?
Nus: Ya, dan saya merasa sia-sia saja sudah tahu ini-itu yang boleh dan tidak, atau baik dan buruk, tapi melanggarnya, dan saya jadi malu luar biasa pada orang-orang sekitar yang mungkin akan mencibir, karena tahu harusnya saya tidak begitu.
Lus: Makanya berhenti.
Nus: Mau saja sih berhenti melakukan kesalahan, maunya orang melihat saya hanya melakukan hal-hal baik supaya mereka juga bisa mengambil kesimpulan bahwa saya memang orang baik.
Lus: Bukan itu. Maksudnya, berhenti menjadikan orang-orang sekitar sebagai dasar melakukan atau tidak melakukan sesuatu, meskipun sepintas itu baik, tapi kebaikan yang kamu peroleh darinya tidak akan bertahan lama. 
Nus: Tapi, kadang-kadang mereka menjadi alasan saya untuk lebih terdorong melakukan hal yang baik.
Lus: Lalu akhirnya merasa sangat malu jika ketahuan melakukan kesalahan sampai demotivasi (lawannya termotivasi) juga kan?
Nus; Nah itu....
Lus: Lebih baik berhenti menjadikan manusia sumber motivasi yang utama. Alihkan pada-Nya. Jika Dia yang menjadi alasan kamu malu berbuat salah, bahkan sebelum melakukannya kamu sudah malu duluan, karena kamu tahu, dari niat saja sudah ketahuan. So, rencanamu buat kesalahan a.k.a kelalaian a.k.a kemaksiatan bahkan bisa di-rem duluan. Dan, kalaupun kamu pernah terlanjur kecolongan lantas malu pada-Nya, kamu bisa jadi lebih terdorong untuk cepat-cepat bertaubat dan berhenti melakukannya. Karena kamu tahu, bahwa Dia sangat senang pada hamba-Nya yang malu dan mengakui kesalahan. Tidak seperti manusia yang mungkin malah akan mencerca.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images