Nus: Besok gak jadi ah ke tempat pertemuan....
Lus: Kenapa...?
Nus: Males ding, nggak enak juga udah lama gak ngumpul sama mereka.
Lus: Bukannya di sana selalu ada sharing dan materi motivasi gitu...?! Itu bagus kan, kenapa juga nggak enakan, positif lagi...
Nus: Nggak mood...!
Lus: Ya... kalo ngandalin mood mah emang seringnya nggak mendukung sama hal-hal baik.
Nus: Ya nggak usah dipaksa.
Lus: Hm... justru harus dipaksa kadang-kadang. Perasaan harus dikendalikan buat kebaikan.
Nus: Ngomong sih mudah, praktiknya yang susah. Dipaksain malah nyesekin.
Lus: Makanya dicoba praktiknya dulu.
Nus:..........
Lus: Btw, nggak enaknya karena apa sih? Hanya karena udah lama ngilang?
Nus: Yap. Ntar nanti diliatin, dipelototin, diceramahin, ditanya-tanyain, dicurigain...
Lus: Haaah...?!?! Emang kamu teroris apa? Pikiran kok segitunya. Nggak sampe gitu juga kali. Su'udzhon berarti. Kan gak boleh kayak gitu. Pikiran bisa jadi pembenaran akhirnya kenyataan. Makanya mending pikiran positif aja biar kenyataannya jadi positif juga.
Nus: Jadi, saya mikirnya harus gimana...?!
Lus: Ya positive thinking-lah wherever-whenever. Allah juga kan mengikuti persangkaan hamba-Nya, itu janji-Nya, dan Dia nggak pernah dan nggak bakalan ingkar janji.
Nus: So....
Lus: So, datang aja ke tempat pertemuan. Meski gak dapet apa-apa, kan minimal dapat berkah ngumpul bareng teman-teman seiman. Itu aja dah cukup tuh. Siapa tahu berkahnya pikiran kamu bakal lebih fresh, hati lebih gres (apa ya ini), dan kamu lebih semangat hidup n lebih cerah masa depan.
Lus: Coba aja dulu, buktikan teori orang kalo mikir positif, bakal kejadian positif (teori siapa ya itu...?). So, jangan pikir macem-macem dulu deh sebelum mencoba, ntar lapor lagi hasilnya kayak apa setelahnya nanti.
Nus: Iyelah...
#kali ini agak sarkastis
Nus: Saya merasa malu
Lus: Itu bagus, malu kan bagian dari iman.
Nus: Tapi saya sangat malu hingga rasanya hampir putus asa.
Lus: Lho?! Harus di-rem tuh berarti. Emangnya malu karena apa?
Nus: Saya malu sama tetangga, kalau-kalau mereka mendengar atau tahu sesuatu tentang saya yang nggak pantas saya katakan atau lakukan.
Lus: Itu malu atau was-was saja...?
Nus: Entahlah. Yang jelas, saya merasa sangat malu jika melakukan sebuah kesalahan, dan mungkin tetangga saya mengetahuinya atau mendengarnya. Saya jadi gelisah dan kecewa pada diri sendiri.
Lus: Begitulah
Nus: Begitu apa?
Lus: Jika mata dan telinga manusia yang kita jadikan Pengawas Amalan. Lupa diri saat melakukan kelalaian, begitu selesai baru deh ingat... kira-kira apa kata orang ya..?
Nus: Ya, dan saya merasa sia-sia saja sudah tahu ini-itu yang boleh dan tidak, atau baik dan buruk, tapi melanggarnya, dan saya jadi malu luar biasa pada orang-orang sekitar yang mungkin akan mencibir, karena tahu harusnya saya tidak begitu.
Lus: Makanya berhenti.
Nus: Mau saja sih berhenti melakukan kesalahan, maunya orang melihat saya hanya melakukan hal-hal baik supaya mereka juga bisa mengambil kesimpulan bahwa saya memang orang baik.
Lus: Bukan itu. Maksudnya, berhenti menjadikan orang-orang sekitar sebagai dasar melakukan atau tidak melakukan sesuatu, meskipun sepintas itu baik, tapi kebaikan yang kamu peroleh darinya tidak akan bertahan lama.
Nus: Tapi, kadang-kadang mereka menjadi alasan saya untuk lebih terdorong melakukan hal yang baik.
Lus: Lalu akhirnya merasa sangat malu jika ketahuan melakukan kesalahan sampai demotivasi (lawannya termotivasi) juga kan?
Nus; Nah itu....
Lus: Lebih baik berhenti menjadikan manusia sumber motivasi yang utama. Alihkan pada-Nya. Jika Dia yang menjadi alasan kamu malu berbuat salah, bahkan sebelum melakukannya kamu sudah malu duluan, karena kamu tahu, dari niat saja sudah ketahuan. So, rencanamu buat kesalahan a.k.a kelalaian a.k.a kemaksiatan bahkan bisa di-rem duluan. Dan, kalaupun kamu pernah terlanjur kecolongan lantas malu pada-Nya, kamu bisa jadi lebih terdorong untuk cepat-cepat bertaubat dan berhenti melakukannya. Karena kamu tahu, bahwa Dia sangat senang pada hamba-Nya yang malu dan mengakui kesalahan. Tidak seperti manusia yang mungkin malah akan mencerca.
Nus: Saya merasa tidak berguna, tidak bisa melakukan banyak hal.
Lus: Benarkah begitu? Atau mungkin hanya kamu yang berpikir begitu....?
Nus: Ya, maksudku.... memang kenyataannya begitu. Bisa dibilang saya nggak se-eksis yang lain, bahkan nggak seperti rata-rata orang kebanyakan. Saya minus pokoknya...
Lus: Coba dipikir baik-baik lagi. Ingat orang-orang terdekat di sekitarmu, barangkali saja kamu masih cukup penting buat mereka.
Nus: Hm....?
Lus: Mungkin masih ada orang yang membutuhkan bantuanmu. Paling tidak, orang tuamu misalnya...?
Nus: Iya sih, tapi saya hanya melakukan hal-hal yang biasa, hanya sekedar rutinitas yang kadang membosankan juga.
Lus: Eits, sekalipun yang kamu lakukan hanya pekerjaan biasa, tapi jika bisa membantu orang lain, apalagi orang tua sendiri, itu berarti kamu memang masih berguna, setidaknya buat mereka.
Nus: Hm ya... ya.... Tapi tetap saja, saya merasa tak banyak berarti, juga tak berarti untuk kebanyakan orang.
Lus: Mm... berbuat sedikit bukan lantas menjadi tak berarti. Lagipula, tak ada orang yang benar-benar bisa berbuat untuk semua orang. Berbuat hal kecil, untuk sebagian kecil orang, tapi dari hati, itu jauh lebih berarti ketimbang menjadi perusak dan pengganggu. Dan bukankah, orang-orang seperti itu juga cukup banyak? Sangat banyak malahan....

